image

Pariwisata Indonesia dan Peluang Kerja

Tanggal Publikasi : 07/11/2014

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlaku efektif di akhir tahun 2015 berpotensi untuk mendorong pertumbuhan jumlah wisatawan ke Indonesia yang kini masih sekitar 9% per tahun menjadi di atas 10%. “Dengan  diberlakukannya MEA, akan terjadi peningkatan pergerakan manusia di wilayah ASEAN, yang berarti bahwa jumlah wisatawan ke Indonesia dari negara-negara ASEAN akan meningkat juga.  Apalagi dengan adanya rencana pemberlakuan Common Visa untuk ASEAN, akan sangat memudahkan warga asing dari luar ASEAN masuk ke Indonesia, termasuk melalui hub-hub lain seperti Singapura atau Bangkok, maka kita optimistis bahwa akan terjadi akselerasi pariwisata Indonesi,

 

Terdapat banyak peluang yang dapat Indonesia ambil dari integrasi perekonomian ASEAN melalui MEA, termasuk di sektor pariwisata. Pertanyaan yang penting adalah “Apa yang harus kita lakukan agar Indonesia dapat meraup sebanyak-banyaknya manfaat dari MEA’ dan bagaiman secara nyata menyiapkan langkah-langkah tersebut?”

Peluang di Sektor Pariwisata

Indonesia harus merebut peluang dari pertumbuhan sektor pariwisata ASEAN yang merupakan tertinggi di dunia. Sepanjang periode 2005-2012, pariwisata kawasan ini mampu tumbuh rata-rata 8,3% per tahun, jauh di atas rata-rata pertumbuhan global yang hanya 3,6%. Bahkan pada 2013, arus kunjungan wisatawan ke negara-negara ASEAN sudah mencapai 92,7 juta atau meningkat 12% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara pertumbuhan global hanya 5%.

Perkembangan itu membuat peran sektor pariwisata semakin penting bagi perekonomian negara-negara ASEAN. Pada 2023, potensi kontribusi pariwisata terhadap perekonomian kawasan ini diproyeksikan akan mencapai US$ 480 miliar dengan pertumbuhan rata-rata 5,8% per tahun, sedangkan pertumbuhan investasinya sekitar 6,8% per tahun. “Ini adalah peluang besar, pariwisata Indonesia harus bisa memanfaatkannya untuk memperkuat perekonomian nasional,”.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional semakin besar. Ini terasa saat perekonomian nasional menghadapi krisis global seperti tahun lalu, ketika penerimaan ekspor turun tajam. Pariwisata mengalami peningkatan kontribusinya naik dari 10% menjadi 17% dari total ekspor barang dan jasa Indonesia dan posisinya sebagai penyumbang devisa

terbesar meningkat dari peringkat 5 menjadi peringkat 4 dengan penghasilan devisa sebesar 10 Milyar USD.

Sementara itu, kontribusinya secara langsung terhadap PDB sudah mencapai 3,8% dan jika memperhitungkan efek penggandanya (Multiply effect), kontribusi pariwisata pada PDB mencapai sekitar 9%. Penyerapan tenaga kerja di sektor ini juga sudah mencapai 10,18 juta orang atau 8,9% dari total jumlah pekerja sehingga merupakan sektor pencipta tenaga kerja terbesar keempat.

Di lihat dari sejumlah indikator yang ada, peluang untuk lebih meningkatkan peran pariwisata dalam perekonomian nasional cukup terbuka lebar bagi Indonesia. Daya saing sektor pariwisata Indonesia terus mengalami perbaikan seperti disebutkan oleh World Economic Forum, daya saing pariwisata Indonesia meningkat, dari peringkat 74 dari 140 negara dan terakhir  ke posisi 70 dari 140 negara. Untuk ASEAN daya saing pariwisata Indonesia berada di peringkat 4.


Untuk meningkat daya saing ini, terutama dalam aspek peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sampai 2013 lalu, Kemenparekraf telah melakukan sertifikasi sebanyak 58.627 tenaga kerja pariwisata. Angka ini jauh diatas target yang hanya memproyeksikan sebanyak 50.000 tenaga kerja sampai tahun 2014.  Angka ini belum termasuk sertifikasi yang dilakukan secara swadana, ataupun sertifikasi langsung yang dilakukan oleh pendidikan tinggi pariwisata. 
Di samping itu, Kemenparekraf juga telah membentuk standarisasi untuk pelaku industri seperti hotel. Ada 9 standard usaha yang telah diberlakukan, termasuk Green Hotel.  Standard Green Hotel meliputi aspek pengelolaan lingkungan, efisiensi pengunaan energi dan air, dampak terhadap komunitas di lokasi hotel, dan pengunaan bahan baku dan supply dari dalam negeri dan dari daerah setempat.


“Bisa dikatakan, Pariwisata termasuk sektor yang relatif siap, bahkan dari aspek SDM. Indonesia juga memimpin karena standar yang digunakan untuk menilai kompetensi tenaga kerja Pariwisata di ASEAN (ACCSTP) sebagian besar adalah standar yang sudah diterapkan di Indonesia”. Selain itu,Indonesia juga ditunjuk sebagai Regional Secretariat yang akan memfasilitasi implementasi dari Mutual Recognition Arrangement (MRA) dari tenaga kerja profesional pariwisata.   

Kemajuan pariwisata ini akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, karena pariwisata mempunyai dampak pengganda yang besar terutama dengan industri kreatif, yang memang mempunyai hubungan sangat erat dengan pariwisata. Pariwisata dan ekonomi kreatif juga sektor yang pertumbuhannya inklusif karena nilai tambahnya langsung dirasakan masyarakat lokal.

 
“Berbagai sektor dalam industri kreatif sudah menjadi atraksi pariwisata yang semakin populer, seperti kuliner, seni pertunjukan, desain, ataupun fashion.  Kemajuan pariwisata akan secara langsung memajukan industri kreatif; sebaliknya industri kreatif yang maju akan menjadikan sebuah kota atau suatu daerah berkembang menjadi destinasi pariwisata yang unggul, sebagaimana bisa dilihat dari kasus Bandung, Jogja, Jember, Solo, Banyuwangi, maupun Bali,”.